EGCG, Antioksidan, dan Kemopreventif

Telah disebutkan dalam postingan sebelumnya bahwa teh dapat berfungsi sebagai antioksidan. Telah banyak orang yang mendengar istilah antioksidan, terutama dari iklan TV (kosmetik, minuman teh hijau, minuman vitamin C) yang marak mengklaim produk mereka mengandung antioksidan yang baik bagi kesehatan. Namun, apakah sebenarnya antioksidan itu? Dan bagaimanakah EGCG yang merupakan jenis polifenol terbanyak mampu berfungsi sebagai antioksidan yang dapat mencegah karsinogenesis?  Let’s check this out…

Secara umum, antioksidan didefinisikan sebagai senyawa yang dapat menunda, memperlambat dan mencegah proses oksidasi lipid. Secara khusus, antioksidan adalah zat yang dapat menunda atau mencegah terjadinya reaksi radikal bebas dalam oksidasi lipid (Kochhar & Rossell, 1990). Menurut Fessenden dan Fessenden (1986), antioksidan merupakan suatu inhibitor reaksi radikal bebas yang kadang-kadang dirujuk sebagai suatu ‘perangkap’ radikal bebas. Halliwell dan Gutteridge (1999) mendefinisikan antioksidan sebagai substansi yang apabila diberikan pada konsentrasi rendah dibandingkan substrat yang mudah dioksidasi, secara signifikan menunda atau menghambat oksidasi substrat tersebut.

Mekanisme kerja umum suatu penghambat radikal bebas adalah bereaksi dengan radikal bebas reaktif membentuk radikal bebas tak reaktif dan relatif stabil. Antioksidan sangat bermanfaat bagi kesehatan dan berperan penting untuk mempertahankan mutu produk pangan dari berbagai kerusakan seperti ketengikan, perubahan warna dan aroma, serta kerusakan fisik lain pada produk pangan karena oksidasi (Widjaya, 2003).

Epigallocatechin gallate (EGCG) sebagai Kemopreventif

Penggunaan EGCG sebagai agen kemopreventif lebih menguntungkan dibanding agen kemoterapi karena agen kemoterapi tidak hanya menyerang sel kanker namun juga dapat menyerang sel normal, sedangkan EGCG lebih spesifik menyerang sel kanker.

Mekanisme EGCG sebagai agen kemopreventif adalah dengan berperan sebagai antioksidan alami. Oksigen dapat mengoksidasi substansi xenobiotik menghasilkan spesies yang reaktif atau radikal bebas. Senyawa ini dapat bereaksi dengan berbagai konstituen dalam sel: karbohidrat, lemak, protein dan deoxyribo nucleic acid (DNA) sehingga menimbulkan kerusakan. Dampak ini diminimalkan dengan adanya senyawa pelindung alami yang secara normal dihasilkan oleh tubuh, yaitu adanya enzim protective (superoxide dismutase, peroxidase, glutathione peroxidase, glutathione S-transferase dan catalase). Namun, jika radikal bebas terlalu banyak dan tubuh tidak mampu menangkalnya, kerusakan sel terus terjadi dan bisa menimbulkan kanker. Oleh karena itu, perlu tambahan senyawa dari luar yang berfungsi sebagai antioksidan, salah satunya EGCG. Penelitian in vitro menunjukkan bahwa EGCG memiliki aktivitas tinggi sebagai antioksidan.

Sebanyak 40 μmol/L EGCG dapat menghambat produksi H2O2 pada sel-sel keratin normal yang dipapar dengan sinar UVB (Katiyar dkk., 1996). Selain itu, berdasarkan penelitian, EGCG berperan sebagai kemopreventif melalui mekanisme lain, yaitu : sebagai penghambat signaling MAP kinase, penginduksi apoptosis (cell cycle arrest, inhibisi faktor transkripsi NF kappa B dan AP-1, dan reduksi aktivitas protein tirosin kinase, c-jun dan ekspresi m-RNA), penghambatan sinyal growth faktor dan agen antiproliferatif (anti pembelahan sel), yang pada inti dari mekanisme-mekanisme di atas adalah menghambat faktor-faktor pertumbuhan yang menginisiasi sel kanker, sehingga sel kanker mengalami kematian (Blumberg, 2003)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: